Saturday, 18 May 2013

SIFAT FISIKA, KIMIA DAN KLASIFIKASI DARI BATUAN BEKU

 Magma adalah material alam yang sebagian atau seluruhnya berwujud cair. Untuk batuan vulkanik kuno dan semua batuan plutonic yang terdapat pada permukaan karena proses erosi. Besal dari magma hanya dapat disimpulkan atau diasumsikan walaupun ada bukti struktur atau tekstur untuk dapat dikatakan sebagai tempat asalnya. Salah satu bukti tidak langsung yang terbaik datang dari lab petrologis, sejak James Hall melakukan penelitiannya hampir 200 tahun yang lalu, ia memiliki contoh magma pada suhu yang tepat, lalu mendingin dan mengkristalisasi magma ini menjadi batuan beku.

            Kebanyakan magma adalah cairan silikat , mengandung sekitar 75-100% Si02 (silika). Bagaimanapun, beberapa batuan beku langkah dapat terbentuk oleh kristalisasi dari magma dengan kadar silika yang sangat sedikit. Sebagai contoh karbonatilite dan natrokarbonatili adalah batuan intrusif dan ekstrusif yang di dominasi oleh Sodium, kalsium atau mineral magnesium karbonat dengan hanya sedikit silikat nelsonile adalah batu silika bebas magnetik. Ilmenit/apatite yang dikenal terbentuk dalam aliran lava atau sebagai pemisal dalam plutonik.

BENTUK FISIK DAN CIRI-CIRI DARI MAGMA

            Bagian dari magma silika sebagian besar dapat dilihat dari komposisisnya sebagai contoh, densitas dikendalikan oleh konsentrasi relatif dari komponen kimia dengan berat atom yang berbeda.

            Magma kaya akan elemen-elemen seperti kalsium,titanium dan utamanya besi memiliki densitas kekokohan yang lebih besar dari magma mengandung elemen-elemen ringan seperti silikon, aluminium dan sodium

            Kebanyakan mineral silikat mempunyai titik didih diatas 10000 C, yang membuat magmanya tetap cair. Kebanyakan komposisi magma ada selang waktu pengkristalan diatas beberapa ratus derajat celcius diantara kenampakan dari temperatur kristal yang pertama pada pendinginan dan pengkristalan terakhir dari sedikit persen cairan.

 Selang waktu itu sendiri dan peningkatan secara derastis keduanya bervariasi sebaik dengan tekanan magma. Kebanyakan magma berisi konsterasi yang kuat dari jenis-jenis yang mudah menguap seperti air atau karbon dioksida. Pada suhu yang tinggi dimana magma mencair secara total, unsur yang memudah menguap akhirnya benar-benar terurai dalam molekul cair.

Viskositas merupakan salah satu ciri-ciri yang paling penting dari kebanyakan cairan termaksud magma. Viskositas didefinisikan sebagai daya tahan untuk mengalir.

            Air memiliki kecenderungan untuk mengacaukan penggabungan tetrahedra dengan melemahkan ikatan Si/O, jadi kadar air yang tinggi akan mengurangi kekentalan magma seperti yang ditunjukkan Shaw (1965), 4% berat (wt%) H20 dilarutkan dalam magma asam kering mengurangi sekitar 108-105 keadaan seimbang. Penilai naskah mengerahkan kepada Hess (1989) untuk sebuah diskusi komprehensif struktur lelehan dan viskositas.

            Kebanyakan magma habis pada temperatur dalam selang waktu kristalisasi antara cairan (temperatur dimana kristal pertama muncul selama pendinginan). Dan bahan padat ( temperatur dimana magma menjadi benar-benar padat), dan demikian menghasilkan pelelehan, memadatkan kristal dan mungkin juga gelembung-gelembung gas. Kekentalannya juga bervariasi karena pengaruh tekanan. Jadi ketika mengalir lebih lanjut hanya memerlukan tenaga yang sedikit. Keadaan magma (prilakunya) sangat dipengaruhi oleh komposisi, viskositas (kekentalan), kandungan gas dan kadar pemadatan kristal. Ekstrusif rendah viskositas magma asam (basaltik, andesit) cenderung membentuk aliran magma, sebaliknya magma ekstrusif tinggi, viskositas intermediet dan felsik menghasilkan piroklastik yang besar seperti material abu, tuff atau fitrophyre. Magma asam intrusif memiliki viskositas rendah yang dapat mengeksploitasi retakan tipis sebagai pipa penyalur. Magma felsik dengan viskositas tinggi sangat jarang dijumpai sebagai “dikes” atau “shills” tetapi biasanya dalam bentuk yang besar, membulat atau bola-bola seperti stocks dan batolit.

KOMPONEN KIMIA BATUAN BEKU

            Batuan beku mempunyai banyak material yang terdiri dari unsur kimia. Dua hal penting yang merupakan dua unsur yang berlimpah-limpah di kerak bumi, oksigen dan silisium, tetapi banyak unsur lain yang menjadi penyusun di dalam magma dan batuan beku. Komponen kimia dari batuan beku umumnya terbagi menjadi 3 kategori dari komponen: unsur utama, unsur tambahan dan unsur pelengkap (unsur terkecil). Unsur utama merupakan gambaran secara khas sebagai pemusatan yang jauh lebih besar daripada 2 wt℅ dan unsur tambahan antara 0˒1 dan 2 wt℅. Unsur pendukung memiliki pemusatan kehadiran dibawah 0,1 wt℅ dan merupakan secara khas sebagai bagian per jutaan atau bagian per milyar. Dalam penjumlahan oksigen dan silisium yang berlebih meliputi aluminium, titanium, besi, mangan, magnesium, kalsium, sodium, potasium dan fosfot. Secara normal memberitahukan kelimpahan dari unsur utama dan unsur tambahan dalam bentuk oksida sederhana yaitu SiO2, TiO2, Al2O3, FeO, Fe2O3, MnO, MgO, CaO, Na2O, K2O, P2O5. Unsur utama mineral lainnya adalah sulfur, flourit dan klorit dalam bentuk unsurnya.

            Meskipun analisis batuan dan mineral umumnya merupakan persentase dari persen berat oksida, jumlah molar digunakan untuk berbagai macam tujuan petrologis. Perubahan dari persen berat ke persen mol adalah secara langsung dan penggunaan berat molekul dari oksida yang dapat di kalkulasikan dari tabel periodik atau didapatkan dalam banyak teks mineralogi antara lain: Deer, Howie dan Zussman (1993). Untuk mengkomfersi, pembagian persen berat tiap oksida oleh berat molekulnya. Penambahan semua nilainya dan kemudian dinormalkan menjadi 100%.

            Dua komponen penting kimia lainnya adalah air dan karbondioksida. Dalam batuan beku, senyawa itu terjadi pada sebuah analisis jika molekul air atau mineral karbon saling bersentuhan (dan jika bahan campuran dapat ditemukan dengan menggunakan teknik analitik). Jumlah 2 komponen utama di hancurkan di dalam magma tetapi kebanyakan untuk kehilangan kelengkapan dalam proses kristalisasi. Hal itu sangat penting untuk menginggatkan bahwa kekurangan komposisi kimia dari batuan beku.

Metode analisis kimia

Metode ini untuk menentukan komposisi kimia batuan dan mineral beragam, tersembunyi dari peralatan tradisional (dan jarang dilakukan) “ kebasahan kimia” analisis kuantitatif untuk  kecanggihan spektroskopik modern dan teknik  spektrometri massa. Penggunaan yang lebih luas menggunakan metode berikut.

Analisis kimia basa.

Analisis kimia basa adalah metode analisis kuantitatif menggunakan bahan reaksi titrasi dari produksi larutan oleh pemutusan total sampel batuan dan mineral di dalam asam. Teknik pemutusan tergantung pada tipe batuan, tetapi umumnya daerah  dengan sempurna atau sampel berbubuk merupakan penghancuran di dalam larutan asam dengan beberapa campuran nitrat, asam fosfat, dan asam hidroklorik. Penggunaan  hampir eksklusif dalam menentukan kosentrasi unsure utama dan tambahan, teknik ini tidak mempunyai resolusi yang diperlukan  untuk analisis unsur  pelengkap lainnya. Sebagian besar analisis batuan (dan baik analisis mineral) dilaporkan dalam petrologi.

Absorpsi atom spektrumfotometry

Sama halnya analisis kimia basa, teknik  absorpsi atom spektrumfotometry juga memerlukan sejumlah pemutusan sampel di dalam larutan asam. Larutan kemudian menguap di dalam lingkungan gas dan berhubungan pengeluaran pemancaran atom penjumlahan kualitatif dan perbandingan larutan standar diketahui konsentrasi larutan khusus. Teknik ini umumnya lebih teliti daripada analisis kimia basa untuk unsur utama di konsentrasi rendah, tetapi dapat lebih kurang teliti pada konsentrasi tinggi.

 Pemancaran sinar X atau spektroskopi fluorescence

Semua material pemancaran sinar X (yaitu, panjang gelombang sinar X fluoresce) dari individu unsur pokok atom ketika atom itu terbangkitkan oleh pemfokusan sumber kuat energi, didalam kotak sumber energi tinggi sinar X, pada dasarnya sinar X berupa lampu yang menggunakan difraksi sinar X, secara khas menggunakan sumber dari XRF meliputi tungsten dan emas. Unsur atom tertentu memancarkan sinar X spektrum di beberapa karakteristik intensitas frekuensi, merefleksikan secara tepat energi elektron yang berlimpah-limpah di dalam pembangkitan atom. Analisis kuantitatis melibatkan pengukuran intensitas itu untuk batuan yang tidak di ketahui dan kemudian perbandingan bahan standar pengukuran itu untuk mengetahui konsentrasi. Beberapa koreksi berdasarkan pada sifat fisik pijar sinar X dan menerapkan absorbsinya. Teknik ini menjadi suatu teknik standar analisis di tahun 1980an.

Mikrokuar Elektron ( EMP ) dan kapasitas pemancaran sinar X ( PIXE )

            Kedua teknik pokok serupa XRP, dengan 2 pengecualian: sumber pembangkit energi dan tempat analitis larutan. Teknik EMP menggunakan pemusatan sorotan energi tinggi elektron untuk membangkitkan sampel dan dapat membangkitkan area di permukaan sampel kecil sebagai1000 millimeter ( 1 mikrometer atau 1 mikro ). Teknik PIXE menggunakan energitinggi proton untuk sumber energi dan tempat pembangkitan sedikit lebih besar. Seperti XRF, kedua teknik ini menggunakan perbandingan intensitas sinar X dari material yang diketahui dan tidak diketahui konsentrasi kimia untuk sampai pada analisis kuantitatif. Pemecahan analitis menyediakan area yang sangat kecil hanya satu jenis meneral atau bagian yang rata untuk dianalisa. Faktanya, paling jauh penggunaan teknik ini untuk analisis tak lebih dari satu jenis mineral di dalam sayatan bagian tipis batuan. Elektron atau proton ukuran balok hanya dapat menyediakan perluasan analisis atau daerah polikristalin ukmuran besar. Meskipun tak maksimum, analisis batuan dengan teknik ini secara khas melibatkan pembubukan dan peleburan sampel dan meneliti hasil glass ( memerlukan perhatian khusus untuk produk homogen glass ). Analisis semua unsur utama dan beberapa unsur pendukung dapat dipelajari dengan kedua EMP dan PIXE.

Induktif plasma gabungan spektroskopi

Satu teknik yang lebih baru untuk analisis keseluruhan batuan dari unsur utama dan unsur pendukung pilihan menggunakan pembubukan/serbuk, pemecahan sampel batuan, yang menguapkan ke dalam sebuah plasma ( temperature sangat tinggi ionisasi gas). Plasma menguji dan membandingkan dengan standar penggunaan pemancaran spektroskopi. Meskipun beberapa sampel memerlukan persiapan, teknik ini akurat dan relative cepat. Keuntungan selanjutnya teknik ini adalah plasma dapat menjadi pengarah spectrometer massa dan menganalisa komposisi isotop, seperti diuraikan dibawah, di dalam bagian pada metode spektrometri.

ANALISIS INSTRUMENTAL PENGGERAKAN NEUTRON (INAA)

INAA meliputi penyinaran sampel bubuk batuan dengan menggerakan sumber high-flux neutron, khusus didalam sebuah sinkrotron atau reaktor nuklir, untuk analisis unsur pelengkap, terutama unsur yang jarang di bumi. Kehidupan pendek nuclides merupakan pembangkit dari setiap unsur selama penyinaran. Pemusatan perhatian unsur pelengkap dapat ditambahkan oleh pengawasan radiasi elektromagnetik dari α, β, dan γ tempat tinggal jangka penduk nuclides di dalam sampel.

Metode spektrometri massa

Analisis isotop untuk kestabilan kedua dan isotop radiogenic dilakukan menggunakan spectrometer massa, yang mampu mendiskriminasi atom dan partikel molekul berbeda massa. Material diperkenalkan kedalam spectrometer massa gas, plasma, atau penguapan cairan ke sebuah kawat pijar yang kemudian dipanaskan ke residu pembuat terang. Penggunaan metode selanjutnya di dalam kotak dan aliran partikel masuk ke spectrometer massa dari pemanasan kawat pijar. Isotop, atom individu unsur yang sama itu mempunyai persamaan berat atom, merupakan pemecahan massa di dalam alat dan relative tidak sama berlimpah unsur isotop dapat dihitung oleh perbandingan dengan standar kalibrasi. Teknik ini diketahui sebagai ionisasi termal spectrometri massa atau pelemahan isotop ionisasi termal spektrometri massa. Ketika sebuah unit ICP adalah sumber gas,  teknik penunjuk ke ICP-MS.

Didalam analisis spektrometri massa pemisah butiran individu material dapat menjadi pelaksana penggunaan dua tipe alat. Pertama varian ICP-MS di material (plasma) tanda jalan spectrometer massa diperoleh dari ablasi laser tempat kecil pada target, secar efektif manggali keluar lubang yang sangat kecil oleh energi tinggi laser itu material target utama mengalami penguapan. Alat ini mengetahui ablasi laser, penggabungan secara induktip spectrometer massa (LA ICPMS). Kedua di dalam teknik menggunakan sorotan focus ion (secara khas sesium atau ion oksigen) untuk secara fisik menggali lubang di dalam sampel. Penggalian material kemudian menjalankan spectrometer massa yang menganalisa. Kedua alat itu bermacam-macam penggunaan untuk analisis unsur pelengkap dan isotop dan terutama sangat berharga untuk U-Pb geochronology.

KOMPOSISI KIMIA BATUAN BEKU

            Selama sekitar 200 tahun dari penelitian analisis kandungan kimia  batuan beku ahli petrologi mengungkapkan beberapa pola pokok. Contohnya batuan beku basa seperti bassalt yang kaya akan kalsium, besi, dan magnesium dan kekurangan sodium, potasium dan silika relatif ke batuan beku asam. Mafik merupakan batuan yang kaya akan kandungan mineral feromagnesian (olivin, piroksin dan amphibol), dan felsik termasuk batuan yang kaya dengan mineral berwarna terang (kuarsa, feldspar, dan feldspatoid). Selain itu, telah digunakan pada melanocratic, artinya yang berwarna gelap, dan leucocratic, artinya yang berwarna terang. Komposisi kimia ini cenderung menggambarkan kandungan mineral dari beberapa tipe batuan (dan sebaliknya ) dan tidak dapat dielakkan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari formasi dan evolusi magma. Le Maitre (1976) menghitung komposisi ini dari kompilasi diatas 20.000 analisis sifat kimia. Ini menjadi catatan menarik untuk mengetahui nomor dari setiap kategori dari analisa individu. Granit dan basalt menunjukkan nomor paling besar dari analisa batuan, suatu situasi mencerminkan fakta bahwa ada dua tipe batuan beku yang melimpah di lapisan kerak bumi. Untuk beberapa tipe yang lain. Tipe batuan felsik, volume batuan yang paling banyak melimpah yaitu granodiorit dan kuarsa diorit, mencernminkan perannya di magnitik kontinental yang besar sampai lingkungan batholith.

            Batuan beku jarang memiliki kandungan silika sekitar 45% atau lebih dari 75%. Mengapa bisa terjadi begitu?  Batuan beku banyak terbentuk dari mineral-mineral silika yang mana, terkecuali kuarsa, konsentrasi silika antara 35-70%.karena volume batuan yang didominasi oleh  mineral-mineral feldspar, yang kandungannya terdiri antara 55 -68%  silika, ini melebihi jumlah yang diharapkan. Keadaan rendah silika dan silika- mineral-mineral bebas ( olivin dan oksida, berturut-turut ) isian silika dari batuan basa, mengingat keberadaan dari pengaruh kuarsa pada batuan asam sangat penting. Batuan beku intermediat mengandung silika (60-65%) memperlihatkan adanya penurunan sekitar beberapa jumlah feldspar dari jumlah silika.

            Kemudian, komposisi batuan tidak berarti apa dari berat volume rata-rata dari komposisi mineral-mineral individu yang pokok. Walaupun itu bisa sedikit menjelaskan, ini mudah dan berdasarkan atas dasar hubungan antara komposisi kimia dan mineral isian dari Batuan beku ( benar, semua batuan ) , dan menjadi satu hal yang paling penting di kalkulasi petrologi, CIPW.

PENGUKURAN DAN PENAFSIRAN MINERALOGI

            Komposisi minaralogi dari batuan beku merupakan ciri penting karana digunakan untuk klasifikasi dan interprestasi dari asal evolusi magma. Sebagian besar batuan, mineralogi dapat diamati dan diukur dengan menggunakan teknik optik atau berbagai reaksi kimia untuk lainnya, termasuk banyak jenis batuan vulkanik dan khususnya berbutir gelas seperti obsirdan. Untuk batuan ini, perhitungan dari mineralogi ’sintetik’ berdasarkan komposisi kimia sangatlah penting.

BERAT DAN MODE VOLUME

            Secara langsung ukuran dari mineral batuan ini disebut mode, yang biasanya dinyatakan sebagai persen volume atau berat setiap konstituen mineral. Mode dapat diukur dengan berbagai cara , tetapi yang paling umum adalah yang paling tradisional. Penggunaan microskop mekanik untuk poin-count butiran mineral dalam sayatan tipis batuan (William,turner, dan Gillbert 1982) proses ini melibatkan pemindahan bagian tipis sistematis sepanjang kolom dan mengidentifikasi dan menghitung butir mineral pada setiap persimpangan gread, kira-kira dari 500-5000 jumlah, tergantung pada ukuran butir dan tingkat presisi yang diperlukan dinormalisasi untuk 100%. Presentase yang dihasilkan tentu saja, persen berdasarkan wilayah, tetapi dianggap aquivalement untuk persen volume batuan tekstur homogen melalui ekstrapolasi ke dimensi ke tiga, perhatikan bahwa struktur micro pada batuan ini menonjol seperti layering fine-skala atau  lenetion aliran kuat,dimensi ketiga perhitungan ini mungkin tidak valid.

            Mode semikuantitatif (pikiran,nyata) dapat ditentukan dengan estiminasi visual proposi mineral baik di bagian tipis atau di gergaji, lembaran di poles,untuk beberapa tujuan petrologi weight modes diperlukan misalnya,untuk perbandingan kandungan mineral yang sebenarnya untuk diagrafma fase diplot dengan skala persen berat.

            Modus berat dihitung dari volume dengan mengalikan volume persen mineral masing-masing dengan berat rata-rata tertentu, maka normalisasi jumlah dari nilai-nilai baru untuk 100% (karena berat jenis sama dengan berat dibagi volume, persen, berat harus sama kali volume normalisasi persen berat jenis) sangat penting untuk melihat apakah modus dilaporkan sebagai modus volume atau berat jika ini tidak ditentukan biasanya di asumsikan menjadi modus volume. Mode mineral merupakan dasar dari international akan dibahas dibawah ini.

NORMAL CIPW

            Proporsi mineral dalam batuan beku adalah properti dasar yang digunakan untuk perbandingan suatu klisifikasi dalam beberapa kasus , bagaimana pun tidak mungkin mengukur mode mineralogi dengan menggunakan teknik tradisional pada bagian tipis misalnya , untuk batuan vulkanik halus/kaca . Untuk mengukur beberapa batuan plutonik, proses kristalisasi magmatik seperti gas isi variabel atau kedalaman em placement, telah menghasilkan mineral yang tidak dapat langsung dibandingkan bahan kimianya misalnya , piroksin versus amphibol amphibol versus biotit. Untuk alasan ini , empat petrologists awal abad kadua puluh. -Whitman cross, joseph P. Iadings, louis V. Pirsson, dan harry s.washington (yang terakhir –inisial nama C.I.P.W) - Merancang skema untuk menggunakan analisis kimia dari batuan beku untuk menghitung mineralogi ideal atau hipotesis berdasarkan sejumlah aturan baku. Aturan –aturan ini memungkinkan ahli geologi untuk menghitung mineral normatik dengan mengalokasikan konstituen kimia pada suhu tinggi. Pertama untuk mengkristal minaral sebelum mineral rendah temperatur sehingga simulasi urutan sebenarnya dari krirtalisasi dari sebuah magma yg ideal (seperti dalam Bowen’s Reaction Series ) . mineral normatif anhidrit, memungkinkan batuan magmatit  hidrous dapat langsung dibedakan dengan yang kurang menggunakan komposisi batuan.

Karena kadar air tidak relevan dengan perhitungan normal CIPW, biasanya ada hubungan langsung atau jelas antara mineral modal akurat dan mineralogi normatif  untuk sebuah batuan tertentu (sebagian besar batuan plutonik mengandung setidaknya sedikit air) aljabar korespondensi antara alam (misalnya terhidrasi) dan ideal (yaitu ,anhidrat) mineral biasanya jelas. Contohnya yang tidak termasuk dalam hal ini air, unit kimia yang biotik magnesiumnya setara dengan satu unit feldspar kalium ditambah tiga unit dari enstatite piroksin , minus tiga urut kuarsa.

            KMg3ALSi3O10 (OH)2

                  Biotite

                                          = KALSi3O8 + 3MgSi3 – 3Si2 + H2O

                                          K-feldspar       enstatite    quarst     water

Demikian pula , satu unit aktionolit setara  dengan dua unit diopside ditambah tiga unit enstatite dan satu unit kuarsa.

      Ca2Mg5Si8O22 (OH)2

                  Actinolite

                                          = 2CaMgSi2O6 + 3 MgSiO3 + SiO2 + H2O

                                          Diopside                enstatite       quartz    water

Perbandingan langsung dari mineralogi modal dan normatif tidak sederhana, karena mineralogi normatif dihitung pada atom dari pada secara volumetri atau berat. Konversi mineralogi normatif ke bentuk yang kompotibel dengan baik mode volume atau berat dapat dilakukan dengan menggunakan volume molekul atau berat molekul dari mineral yang sesuai .

KLASIFIKASI MINERALOGI

Untuk setidaknya 200 tahun, petrologists telah mencoba untuk mengidentifikasi, menganalisis, karakterisasi, atau mengklasifikasikan batuan beku. Batuan beku telah diberi nama berdasarkan kandungan mineral, komposisi, lokasi geografis, atau tekstur atau ada dasar yang jelas sama sekali. Karena proliferasi nama sering tidak logis, sebuah tata-nama, sejarah besar dan membingungkan ada untuk batuan beku. Sebagian besar pendekatan ini sebelumnya telah diringkas oleh A. Johannsen (1931 1937, 1938) dalam empat volume buku berjudul A petrografi Deskriptif of the Rocks beku. Johannsen dengan kemampuan meringkas masalah:
Banyak dan khas adalah klasifikasi yang telah diusulkan untuk batuan beku. Mereka variabilitas depens di bagian atas tujuan yang ach itu intenden, dan di bagian atas kesulitan yang timbul dari karakter batu sendiri. Masalahnya tidak dengan klasifikasi tetapi dengan Alam yang tidak membuat hal-hal yang benar.
Pendekatan jelas bagi slassification objektif dan jelas dari batuan beku adalah salah satu dibangun di sekitar mineralogi dan tekstur. Kedua karakteristik menyediakan banyak informasi tentang asal dan sejarah batu, mudah dijelaskan dalam lapangan serta laboratorium. Data mineral dapat diuraikan, jika dianggap berguna, dengan analisis kimia r isotopik. Untuk batuan vulkanik mikrokristalin seperti rhyolites dan basalt, klasifikasi terbaik biasanya requirea analisis kimia.
The accurary identifikasi mineralogic dari spesimen lapangan dan tangan sangat variabel. Hal ini tergantung pada ukuran kristal, derajat perubahan, dan kualitas pengamatan oleh ahli geologi. Faktor terakhir ini sering sama pentingnya dengan yang lain, karena perbedaan kemampuan antara ahli geologi sama besarnya perbedaan ukuran kristal antara granit dan riolit. Dalam hal apapun, jelas bahwa deskripsi seperti "granit albiteriebeckite myrmekitic" tidak bisa hanya didasarkan pada pemeriksaan spesimen tangan. bagian Tipis diperlukan untuk klasifikasi yang paling akurat. Di lapangan, deskripsi seperti "basalt" untuk sebuah batu mikrokristalin berwarna gelap, atau "riolit tuf litik" untuk kepadatan, berwarna agak terang, berlapis-lapis yang mengandung fragmen, karakter ini pasti sering digunakan. Karakterisasi Mahasiswa seputar batuan akan meningkatkan berbanding lurus dengan pengetahuan mereka tentang karakteristik mineral dan asosiasi mineral dan pengalaman mereka.
batuan beku Kebanyakan hanya berisi beberapa mineral dalam kelimpahan tinggi dan lebih banyak jenis yang kecil. Karena kemudahan identifikasi dan signifikansi mereka di petrogenesis, mineral lebih umum dan berlimpah biasanya dipilih sebagai dasar klasifikasi. Batuan beku kerak paling banyak mengandung konsentrasi signifikan feldspar, bersama dengan silika mineral seperti kuarsa, atau mineral feldspathoid indikatif kekurangan silika. Batuan beku kaya mineral ini berwarna terang biasanya disebut sebagai felsic atau leucoracratic. Sebaliknya, batuan beku banyak mengandung mierals ferromagnesian melimpah dan sebagian besar berwarna gelap seperti pyroxenes, Amfibol, olivin, dan biotit di samping mineral berwarna terang. batuan tersebut umumnya digolongkan sebagai intermediate atau mesocratic. Ketika mineral berwarna gelap mendominasi, batu disebut mafik atau melanocratic. Jika mineral gelap hampir hanya konstituen, batuan ultrabasa id. Batuan beku jenis anorthosite sebagian besar terdiri dari plagioklas dan dengan demikian cahaya berwarna, atau leucocratic, dan sebagian besar terdiri dunit olivin dan dengan demikian adalah cahaya menjadi hijau menengah. Anorthosite adalah notregarded sebagai batuan felsic, bagaimanapun, tetapi paling sering dikaitkan dengan batu mafik gabro.
Kebanyakan klasifikasi batuan beku berdasarkan jumlah elative terang dan mineral gelap dan pada ukuran butir, yang mencerminkan laju pendinginan dan cara emplacement. Beberapa skema klasifikasi telah tergantung pada indeks warna socalled, atau CI (lihat di bawah), yang pada dasarnya adalah gelap skala dari 0% (putih) hingga 100% (hitam) sekitar berdasarkan persentase mineral gelap di batu. Istilah leucocratic, mesocratic, dan melanocratic sebenarnya bisa diukur dengan skala CI.


Sistem Klasifikasi IUGS

Untuk memenuhi kebutuhan b = untuk sistem klasifikasi tunggal rasional batuan beku untuk digunakan dunia, Albert Streckeisen menerbitkan sebuah skema klasifikasi yang berlaku umum awal untuk batuan plutonik pada tahun 1967. Uni Internasional Ilmu Geologi kemudian membentuk komisi ahli geologi dari seluruh dunia, dipimpin oleh Streckeisen, untuk menguraikan dan merumuskan proposal untuk batuan plutonick, kemudian menambahkan sistem Klasifikasi terhadap batuan volkanik. Sistem ini sekarang, diterima secara internasional yang komprehensif untuk klasifikasi batuan beku yang memungkinkan aplikasi tata-nama, ke tingkat yang diinginkan presisi dan khususnya konsistensi. Paling penting, mengingat penentuan mineralogic akurat oleh penyidik individu, ini memungkinkan seorang pembaca sastra geologi untuk memastikan bahwa granodiorit hornblende-biotit di Rusia adalah jenis batuan yang sama sebagai granodiorit hornblende-biotit dijelaskan dari Texas. Rekomendasi IUGS telah diterbitkan dalam bentuk buku bersama dengan glosarry istilah, dan pembaca disebut buku ini untuk rincian lebih lanjut classificatio dan tata-nama.
Untuk mengklasifikasikan batu dengan benar berdasarkan komposisi mineral, salah satu harus menentukan persentase lima mineral: quatrz, plagioklas, feldspar alkali, mineral ferromagnessian, dan feldspathoids. Dalam pemeriksaan tangan spesimen, kuarsa diidentifikasi dengan tembus nya, kilap vitreous, dan kurangnya pembelahan jelas; plagioklas dengan pemutusan dan stiations kembar polysynthetic pada permukaan disosiasinya; feldspar potasik oleh perpecahan, kurangnya striations kembar, dan pink warna umum untuk tan ; ferromagnesian mineral dengan warna coklat, hijau, atau hitam, dan feldspathoids oleh individu yang meliputi karakteristik prossessed oleh masing-masing. Para feldspathoid hanya sulit untuk mengenali adalah nepheline, yang dapat dengan mudah keliru untuk kuarsa dalam pekerjaan tangan spesimen. Pada bagian tipis, diskriminasi kuarsa dan nepheline cukup mudah karena mereka memiliki sifat qite optik yang berbeda.
Seperti disebutkan sebelumnya, mineralogi batu mencerminkan komposisi kimianya. Sebuah klasifikasi batuan beku berdasarkan mineralogi karena itu merupakan cerminan langsung dari komposisi magma Klasifikasi IUGS membedakan batu umum berdasarkan ukuran butir. batuan Phaneritic diklasifikasikan sebagai plutonik, dan aphanitic batuan diklasifikasikan sebagai Withi vulkanik masing-masing kategori besar, batuan dinamai berdasarkan persentase mineral. Kategori Klasifikasi pasti berdasarkan penggunaan umum dan kelimpahan pengelompokan mineralogic alam. Oleh karena itu sebagian besar batu.

Felsic dan Rocks Batuan

Petrologists biasanya menggunakan diagram segitiga. Prosedur geometris sederhana untuk mencari atau ploting titik individu dalam setiap diagram segitiga. Dalam segitiga sama sisi, skema lokasi sederhana melibatkan hanya membagi segitiga menjadi segitiga sama sisi yang lebih kecil yang membentuk kotak segitiga. Untuk semua segitiga, termasuk segitiga nonequilateral yang menciptakan grid biasa tidak praktis, pendekatan matematis elegan adalah untuk membangun sebuah elevasi dari sudut masing-masing melalui titik ke sisi berlawanan dari segitiga. Jarak dari masing-masing pihak ke titik, dibagi dengan seluruh panjang elevasi itu, memberikan sebagian kecil dari konstituen di pojok itu. Classificationtechnique melibatkan penentuan percentagess volumetrik dari masing-masing A, P, dan Q atau Fconstituents, bersama dengan jumlah dan jenis konstituen mafik. Jika sebuah batu plutonik berisi hanya sebagian kecil dari mineral mafik tidak ditentukan, ini bisa ditunjukkan dengan leuco awalan (seperti di leucogranite); dengan proporsi besar mineral mafik, nama hte harus diawali oleh mela (seperti dalam melagranite). Pada kesempatan langka, granit mungkin lapangan class0ified sebagai melagranite bahkan jika tidak memiliki kandungan yang luar biasa tinggi mineral mafik selama warna gelap. Hal ini dapat mengakibatkan dari kehadiran feldspar potassik hijau gelap-coklat yang terjadi di beberapa granit luar biasa ferroan dan syenites. Penggunaan penuh diagram clssification QAPF membutuhkan pengetahuan yang cukup tepat mode mineral, informasi yang biasanya diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium ptrographic dengan mikroskop. Ketika persentase mineral yang tepat tidak dapat ditentukan, misalnya, selama pemetaan lapangan atau pemeriksaan spesimen tangan rutin, nama grup umum yang umum digunakan.
Setiap daerah plagioklas-kaya diagram QAPF berisi jenis batu dua atau lebih yang namanya tergantung pada isi anorthite dari plagioklas atau kelimpahan atau identitas mineral. Anothosite adalah batuan plutonik yang berisi lebih dari 90% dan mineral plagioklas mafik kurang dari 10%. Perbedaan antara gabro dan diorite dapat didasarkan pada kriteria baik. The plagioklas dalam gabro umumnya memiliki komposisi lebih yg mengandung kapur dari Sebuah ₀ ₅, sedangkan plagioklas dalam diorit kurang yg mengandung kapur dari Sebuah ₀ ₅. Jika sebuah batu yang harus diklasifikasikan dengan cara spesimen tangan saja, perbedaan antara gabro dan diorite jelas tidak dapat didasarkan pada komposisi plagioklas, dan proporsi mineral mafik dapat digunakan sebagai gantinya. Bagro biasanya berisi lebih dari 35% dengan volume mafik mineral olivin, augit, atau ortopyroxene. Diorit biasanya mengandung mineral mafik kurang dari 35% menurut volume dan umumnya mengandung hornblende dan juga, atau bukan, piroksen, namun sebenarnya ada batuan transisi disebut gabro-batuan diorit atau andesit basaltik untuk membingungkan hal-hal yang sedikit. Sebuah pembagian lebih lanjut dari batuan berdasarkan gabroric di mana mineral mafik hadir di samping plagioklas yg mengandung kapur. Gabro berisi clinopyroxene, norite berisi ortopyroxene, dan gabronorite memiliki proporsi hampir sama dari orthopyroxene dan clinopyroxene. Klasifikasi batuan plagioklas-kaya diringkas. Sebuah prinsip penting untuk menjaga pikiran selalu adalah bahwa meskipun taat kepada aturan yang dianjurkan, terkadang requirea komunikasi yang paling unambigous akal sehat bila aturan ambigous.
Ultrabasa Rocks. batuan ultrabasa hampir selalu phaneritic dan kabut Q + A + P + F isi kurang dari 10%, yaitu mineral mafik membuat lebih dari 90% dari batu. Mineral mafik utama dalam batuan ultramfic adalah olivin magnsian, augit, orthopyroxene, dan hornblende. Berbagai macam mineral kecil bisa terjadi, namun yang paling umum yang alumina atau chromian, spinel, magnetit, ilmenit, garnet, phlogopite, dan clacic plagioklas. Biasanya jarang hornblende bantalan dan batuan ultramafik lebih umum hornblende-bebas memiliki sedikit tumpang tindih, dan sebagian besar varietas hornblende-bearing hanya disebut hornblendites, yang nama mineral kecil yang digunakan sebagai kualifikasi, misalnya, hornblendite garnet. Oleh batuan ultramafik jauh yang paling umum adalah yang didominasi oleh olivin dan pyroxenes, dan skema klasifikasi mereka menggunakan diagram segitiga dengan olivin, clinopyroxene yg mengandung kapur, dan orthopyroxene di sudut-sudut. Varietas yang lebih umum ditemui atau nama adalah: Peridotit: istilah umum atau bidang untuk sebuah batu yang berisi 40 sampai olivin 100%, dengan sebagian besar sisanya piroksen.
Lherzolite: tipe batuan sangat penting, yang telah dipostulatkan untuk membentuk sebagian besar dari mantel bumi. Letherzolite, bernama untuk kejadian-kejadian yang tidak-nya badan ultrabasa di Lherz di Pyrenees Perancis, adalah sebuah batu olivin yang kaya dengan orthopyroxene substansial dan piroksen yg mengandung kapur kecil kromium-bearing. Umumnya mengandung mineral alumina kecil, baik Al chromian-spinel atau garnet.
Harsburgit: istilah khusus untuk rock, olivin kaya olivin-orthopyroxene. Kebanyakan comonly berisi crhromian Al-spinel sebagai mineral minor atau aksesori, walaupun garnet juga dapat terjadi.
Dunit: Sebuah Peridotit berisi 90 sampai olivin 100%, dengan sebagian besar terdiri dari sisa piroksen dan chromian Al-spinel.
Websterite: Dinamakan untuk lokalitas jenisnya di Webster, North Carolina, batu ini adalah sebagian besar terdiri piroksenit proporsi orthopyroxene dan clinopyroxene, dengan sisanya kecil baik olivin dan hornblenda.
Kimberlite: rock Langka ultramfic porfiritik dengan kelebihan kalium, sehingga mengandung phlogopite atau fenokris amphibole potasik, sehingga secara efektif sebuah Peridotit mika. Berisi olivin, phlogopite, pyroxenes, dan kromit. mineral acccesory Karakteristik adalah monticellite, garnet kaya magnesium, dan mineral kaya titanium. Beberapa kimberlites mengandung berlian.
Lamproites: Serupa dengan kimberlites dan lamprophyres, lamproites adalah ultramafik dan secara molar memiliki total alkali lebih dari alumina, membuat mereka peralkaline. Lamproites dapat terjadi sebagai aliran sayang. Mereka umumnya mengandung mineral langka, incluiding berlian.
 

Batuan vulkanik dapat dalam beberapa kasus diberi nama berdasarkan diagram yang mirip dengan thst digunakan untuk batuan plutonik. Namun, sifat fine-grained dari batuan vulkanik membuat klasifikasi berdasarkan mineralogi mdal sulit pada umumnya dan tidak mungkin untuk batuan gelas. Oleh karena itu, batuan volkanik lebih akurat diklasifikasikan menggunakan kriteria kimia. Perbedaan antara basal dan andesit dibuat terutama berdasarkan indeks warna (CI) dan konten silika atau kurang akurat, o dasar komposisi plagioklas. composotion Plagioklas dalam batuan vulkanik banyak sulit untuk digunakan sebagai kriteria karena kehadiran yang sangat umum zonasi komposisi yang kuat, bahkan zonimg berosilasi, dalam kristal, membuat penentuan kadar anorthite massal sulit. Basal, yang jatuh dekat sudut segitiga P, dibagi menjadi tholeite, tholeite olivin, basal tinggi Al, dan basal alkali. Membedakan mineralogic dan karakteristik kimia dari jenis ini sangat penting basal. Perhatikan bahwa banyak basalta tidak dapat ditempatkan dalam kategori tertentu dengan analisis mikroskopis tetapi memerlukan analisis kimia atau perhitungan normatif mineral. Batuan vulkanik umum feldsphatoid-bantalan bisa kaya dalam alkali feldspar, plagioklas (tephrite), dan nepheline atau leucite (naphelinite atau leucitite).

ASPEK-ASPEK LAIN DARI KLASIFIKASI

Sebenarnya, klasifikasi IUGS tidak memasukkan tekstur kedalam skema klasifikasi itu, dimana tampak jelas perbedaan antara batuan faneritik dan afanitik. Biar bagaimanapun, penamaan batuan beku didasarkan pada kriteria teksturnya, dengan beberapa kandungan mineral sekunder, mencakup:

Pengmatite: sangat kasar-butir batuan (ukuran butirannya lebih besar daripada 1cm dan mendekati atau lebih dari 1m) hubungan butiran batuannya. Komposisinya adalah type granitik, dan pegmatit biasanya banyak mengandung mineral alkali feldspar ( albit atau kelas sodium plagioklas ditambah microcline) dan kristal-kristal kuarsa.

Klasifikasi batuan beku

Untuk setidaknya 200 tahun, ahli batuan telah mencoba untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengkarakteristik, atau mengklasifikasikan batuan beku. Pemberian nama batuan beku didasarkan pada kandungan mineral, komposisi, lokasi geografis, atau teksturnya. karena proliferasi penamaan biasanya tidak logis, maka sebuah tatanama merupakan sejarah besar  untuk batuan beku agar tidak membingungkan penamaanya. Sebagian besar pendekatan ini sebelumnya telah diringkas oleh A. Johannsen (1931,1937,1938) dalam empat volum nya-set buku berjudul “ deskriptif petrografi dari batuan beku”. Johannsen meringkas masalah :

batuan beku banyak dan mempunyai sifat yang khas. keanekaragamannya tergantung dari bagian yang timbul dari karakter batu itu sendiri. Masalahnya ialah tidak dengan pengklasifikasian namun dengan alam yang tidak membuat hal-hal yang benar (1931,51).

Pendekatan yang jelas terhadap tujuan klasifikasi batuan beku adalah salah satunya tekstur batuan dan mineralogy. Kedua karakteristik ini menyediakan banyak informasi tentang asal dan sejarah batu, dapat dijelaskan dalam lapangan serta laboratorium, dan bagian yang halus dan tipis daripada batuan dapat diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya. Data mineral dapat diuraikan, jika digunakan untuk penelitian kimia atau analisis isotopik. Untuk batuan vulkanik mikrokristalin seperti rhyolites dan basal, untuk memperoleh klasifikasi terbaik biasanya diperlukan analisis kimia.

Halaman 65-70

Klasifikasi kimia

Varietas besar klasifikasi kimia dari batuan beku proposed ,keunggulan beberapa dari keseluruhan analisis kimia dari jenis batuan dan yang lainnya hanya bagian dari batuan kimia.banyak dari klasifikasi ini yang digunakan oleh para  ahli dalam bidang skema genetika batuan serta dapat juga dipelajari di luar bagian dari buku. Sebagian  besar klasifikasi kimia akan sering digunakan  oleh pelajar ilmu batuan.

Penjenuhan silica.

Karena batuan beku berasal dari kristalisasi atau pendinginan magma, maka secara logika ialah bahwa magma adalah cairan silica dengan hasil penelitian mineral. Ketetapan kimianya secara detail ialah tidak mengandung  cairan biasa namun  lebih dari jumlah penelitian komponen larutan yang mempunyai temparatur dan tekanan. Pendinginan magma menjadi jenuh dengan hasil penelitian komponen mineral, kemudian mineral dari Kristal mengalami pengendapan dan menjadi bagian dari hasil batuan. Konsep yang digunakan secara umum untuk silica dan mineral silica ( biasanya kuarsa ) berbagai macam varietas batuan beku adalah basalt dan sifatnya seperti granit. Deskripsi dari silica menjadi penjenuhan silica jika mengandung kuarsa atau sejenis dengan mineral silica. Silica- bawah penjenuhan jika  jelas tidak  mengandung mineral seperti feldspar dan magnesium olivine yang keberadaanya tidak tampak pada kuarsa. Banyaknya magma yang kurang mengandung mineral silica diakibatkan oleh cepatnya mineral tersebut mengalami pendinginan, namun ada juga yang cenderung mengalami penjenuhan dengan silica karena proses kristalisasi magma yang cukup lambat. Seperti kondisi dibawah ini, cepatnya butiran olivin yang berkombinasi dengan silica dan  menjadi ortopiroksen .

MgSiO4 + SiO2 = 2 MgSiO3

Felspar dapat juga berkombinasi dengan silica menjadi feldspar , sebagai contohnya

KALSi2O6  + SiO2 = KALSi3O8

Batuan beku banyak yang kurang mengandung kuarsa silica menjadi mineral seperti nevelin olivine yang dimana dari silica menjadi jenuh . meskipun  bentuknya terlihat lemah kemungkinan silica  menjadi  batuan jenuh sangat jarang ditemukan. Mineral seperti hornblende dapat menyamarkan dengan sederhana tingkatan dari jdibawah penjenuhan silica. Dengan jumlah yang kecil dari jenis kuarsa atau feldspar dapat menjadi lebih sulit untuk di identifikasi oleh ukuran tangan maupun dengan menggunakan mikroskop.

Penjenuhan alumina

Granit menurut IUGS system klasifikasi batuan yang mengandung antara 20 dan 60 % kuarsa dan alkali feldspar lebih dari 35 % dari jumlah feldspar. Seorang ahli batuan yang menemukan batuan magma juga mesti  mempelajari kriteria mineralnya dimana variable kimianya mengandung Al2O3 , menggambarkan dari sedikitnya kandungan mineral asesoris. Sebagai contoh granit yang dimana kandungan Al2O3nya  tinggi yang mengandung mineral aluminium contohnya garnet ataupun muskovit . sedangkan granit rendah pada Al2O3 mengandung mineral sodic seperti riebectike atau egerine-augite . alumina mengandung granit yang secara langsung mengawasi karakter dan tipe Kristal yang melebur membentuk  magma granit . jadi dasar klasifikasi granit adalah Al2O3. Meskipun banyak tipe penggunaan dari granit. Skema klasifikasinya dapat digunakan pada batuan beku. ( riyolith ). Klasifikasi ini banyak mempengaruhi jumlah alumina, alkali, dan kalsium dari CIPW mineral normal. Dari referensi penelitian perbandingan dari alumina menjadi alkali ditambah kalsium di dalam feldspar.

Granit dari cairan magma tidak akan membentuk Kristal muskovit. Sebagai contoh tidak sedikit dari jumlah Al2O3 melampaui jumlah dari Na2O + K2O + CaO. ( artinya bagian dari ketentuan kimia yang terjumlah persentase molekul dari persentase berat). Seperti granit yang mempunyai alumina lebih di butuhkan untuk membuat feldspar dan juga referensi terhadap peraluminius. Jika molar AL2O3 < Na2O + K2O,  kemudian melampaui dari alkalis ( atau kekuatan dari alumina) kemungkinan hasil dari penjelasan yang kaya akan sodium dan besi FERRIC menghubungkan mineral seperti aegerin menjadi augit atau ampibol sodic . granit disebut  juga dengan peralkalin . jika alumina melampaui alkali, maka Na2O  + K2O  < AL2O3 < Na2O + K2O  + CaO, Kemudian akan menghasilkan mineral muskovit  ferromagnesian sodik dan granit juga sama dengan metaluminous ( yang berarti pertengahan ).

Klasifikasi kimia dari batuan vulkanik

Pada IUGS batuan vulkanik diklasifikasikan berdasarkan kandungan silica ( wt % SiO2 ) dan jumlah dari alkalis  ( wt % Na2O + K2O ). Catatan jelas ( e.g, antara basanit dan tephrit )  juga membutuhkan jumlah dari CIPW.

Kecendrungan kimia

Sederetan jumlah batuan beku adalah dibatasi oleh geografik yang panjang ditunjukkan oleh bagian kimia yang sangat penting. Untuk menguraikan hubungan kemungkinan genetic  perbedaan antara magma dan perbandingan antara fasilitas batuan beku yang berbeda. Ahli batuan beku menguraikan nomor kimia dan mineraloginya serta skema grafik yang menjelaskan tentang batuan beku. Diharapkan pengukurannya didasarkan pada mineralogy. Yang digunakan untuk menaksirkan ilmu mineral ( seperti CIPW), dan yag lainnya digunakan sebagai perbandingan dari komponen kimia. Pada umumnya tipe diagram ini disebut juga dengan diagram variasi. Dimana jumlahnya cukup besar dari data kimia yang menunjukkan efek kemungkinan magma kimia yang berpindah selama Kristal magma berevolusi.

Diagram harker

Satu dari sebagaian besar yang digunakan oleh semua variasi diagram adalah tipe diagram harker yang menunjukkan berat persen dari banyaknya oksida yang berfungsi pada berat salah 1 oksida. Berat persen SiO2 pada umumnya berasal dari absis, karena indicator ini sangat digunakan dalam evolusi magma yang menunjukkan genetic magma yang menurun menjadi  pasangan tunggal.yang lebih sederhana pada umumnya mengandung sedikit silica dan kemudian mengalami kenaikan dari salah satunya. Untuk pecahan magma olivine, MgO mengalami penurunan magma dimana mengalami pecahan dan juga digunakan sementara pada kandungan silica. Sebab mineral yang terlalu cepat mengalami kristalisasi magma selama pecahan  ( salah satunya adalah reaksi bowen series ) dengan tipe yang kaya akan Mg dan rendah silica relative mengalami keterlambatan, perpindahan Kristal yang begitu cepat ( pecah ) dengan demikian hasilnya sangat kaya akan silica ( MgO ) oksida umumnya berkorelasi dengan gaya linear dari proses pecahan.

Seperti variasi diagram harker yang mengandung oksida dengan absis yang sangat panjang oleh parameter yang ditunjukkan cukup bervariasi meskipun hanya deretan batuan beku. Banyaknya kandungan silica pada variasi diagram serentak dengan berpindahnya piroksen, plagioklas, dan olivine yang berbeda dengan deretan sifat basalt yang tidak banyak juga mengandung SiO2 daripada magma itu sendiri karena mineral yang mempunyai sedikit silica sama halnya dengan magma. Alasan ini dengan catatan mengandung MgO pada umumnya digunakan untuk absis basalt dan andesit karena kekuatannya dalam mengontrol pecahan yang berpindah dari olivine dan piroksen secara bersama – sama. Korelasi atau kecenderungan diagram harker pada proses terjadinya batuan beku yang berelasi bersama dengan magma. Sebagai contoh penghancuran dan pencampuran, secara keseluruhan kecenderungan korelasi linear di indikasi oleh evolusi kimia yang genetic magma dan juga dapat digunakan untuk memperkirakan proses ilmu alam secara kuantitatif.

Diagram AFM ( atau FMA )

Diagram AFM merupakan tipe lain dari berbagai variasi diagram yang digunakan dalam proses pemecahan. Berbagai oksida

Na2O + K2O (A), FeO + Fe2O3 (F ) DAN MgO (M) dalam menentukan sudut diagram  triangular. Kecenderungan genetic dari diagram AFM baik olivine ataupun klinopiroksen yang berpindah dan mengontrol evolusi magma. Diagram ini menggambarkan observasi yang bersamaan dari kedua parameter pecahannya :perbandingan   Fe/Mg dengan total kandungan alkali. Diagram AFM khususnya digunakan untuk menaksirkan evolusi kecenderungan magma dalam lingkungan lempeng konvergen.

Perbedaan indeks

Perbedaan ukuran indeks atau total evolusi magma. Dari jumlah mineral normative diatas (atau dengan temparatur yang rendah) yang ada pada bowen’s reaction series : ortoklas, albit dan kuarsa. Karena dasar mineral normal mempunyai presentasi dengan jarak dari 0-100. Secara umum basalt dengan indeks differensiasi rendah ( <25 75.="" biasanya="" dimana="" granit="" melampaui="" pembelahannya="" span="">

Indeks alkali kapur

Deretan genetic batuan beku, secara total mengalami kenaikan  alkali oksida, dan CaO yang mengalami penurunan dengan kenaikan kandungan SiO2. Variasi diagram harker dimana kandungan keduanya Na2O + K2O dan CaO yang ditunjukkan oleh kandungan SiO2 dari kecendrungan kedua linear tersebut mempunyai point yang penting dimana wt% (Na2O + K2O ) = Wt% CaO. Harga dari wt% SiO2 yang disebut dengan indeks alkali kapur. Secara umum, deretan batuan beku berasal dari alkali yang kaya ( serie alkali ) dengan harga rendah dari indeks alkali kapur ( < 50 ) dan juga alkali rendah ( seri kalsik ) yang mempunyai bidang belahan yang tinggi.

Indeks Larsen

 Indeks Larsen dikembangkan untuk digunakan dalam diagram harker di mana hanya  mengandung SiO2 saja namun tidak menunjukkan perubahan yang banyak dalam deretan  basalt piroksen dan plagioklas karena dikeluarkan bersama dengan olivin didefinisikan sebagai
1 / 3 SiO2 + K2O - (FeO + MgO + CaO), indeks larsen menggantikan kandungan SiO2 sendiri dimana absis dari sebuah diagram harker juga menghasilkan pergeseran yang berlebihan dalam kecenderungan berlebih pada fraksinasi awal deretan  basalt.

Asimilasi dan kristalisasi fraksional (afc)

 Sekarang banyak diperkenalkan oleh ahli batuan yaitu batuan beku kimia yang  terjadi di dalam dapur magma dari proses tersebut terjadi  pelelehan  dengan kristalisasi magma kemudian ditambah lagi dengan ectraction selektif dari dinding dapur magma  atau xenoliths (lihat Bab 6 untuk penjelasan yang lebih  rinci), depaolo (1981)  telah mengembangkan satu set persamaan serta menentukan  untuk menilai dampak asimilasi dan proses kristalisasi fraksional untuk kedua isotopik dan elemen sekender komposisi magma.

Ringkasan

batuan beku yang terdiri dari mineral (kecuali untuk varietas langka seperti obsidian gelas) dan identitas serta proporsi relatif dari mineral ini tergantung pada komposisi yang dominan  digunakan oleh ahli batuan untuk menandai semua aspek komposisi batuan beku dari semua batuan  konsentrasi elemen utama, minor dan sekunder  komposisi mineral individu dan yang akhirnya menjadi perbandingan yang stabil dan isotop radiogenética. semua informasi kimia sangat penting untuk menguji hipotesis dan mengetahui asal dan pemadatan magma. bagaimana banyaknya pengamatan batuan beku yang tidak memerlukan teknik laboratorium canggih namun masih menghasilkan informasi penting bagi karakteristik batuan magmatic. misalnya, perkiraan atau pengukuran proporsi mineral di dalam batuan beku merupakan kebutuhan seorang ahli batuan untuk mengklasifikasikan batu dan menggunakan diagram fasa untuk menjelaskan kristalisasi dari batuan dan menaksirkan dari puluhan ribu analisis kimia batuan beku yang diperoleh selama setengah abad terakhir mengungkapkan bahwa secara kimia batuan kurang beragam dari berbagai batuan beku (warna, ukuran butiran, mineralogi, dll) Sebagai contoh, hampir semua batuan beku mempunyai konsentrasi silika antara 45 dan 75wt%. Peran dominan feldspar dalam batuan beku yang paling mengontrol relatif keseragaman kimia .

 Tujuan klasifikasi  merupakan bagian penting dari petrologi batuan beku karena standarisasi pada penggunaan nama dan ahli geologi juga memastikan bahwa keduanya  merupakan  masing-masing  granit  jenis batu yang sama. Komisi yang bekerja di bawah otorisasi dari serikat internasional ilmu geologi telah mengembangkan klasifikasi standar untuk sebagian besar ukuran batuan. Banyaknya batuan beku serta kandungan mineral dasar klasifikasi dan skema penamaan baik untuk batuan plutonik dan vulkanik yang didominasi oleh kuarsa, feldspar, dan yang bersifat felspar  untuk batuan ultrabasa. kandungan mineral umumnya diukur dengan menggunakan bagian tipis dan komposisi petrografi microscope.informasi dapat digunakan untuk menciptakan sebuah "mineralogi sintetik" untuk semua batuan beku oleh  perhitungan CIPW norma, yang partisi kandungan batu kimia menjadi teknik mineral. secara umum hipotetis terutama berharga ketika sebuah batu (misalnya batu vulkanik) yang berbutiran sangat  halus bahwa pengukuran optik tidak pasti meskipun mereka memainkan kondisi yang kecil dalam klasifikasi IUGS, tekstur atau karakteristik komposisi khusus juga dapat digunakan untuk penamaan batuan. Berbagai macam diagram khusus indeks telah dikembangkan oleh ahli batuan untuk memanfaatkan data kimia dan mineralogi batuan beku untuk melacak proses genetik, terutama fraksinasi.

Reactions:

1 comment:

Iklan